Minggu, 04 Agustus 2013

TERUNTUK SUAMIKU


Kata ini tertulis untuk seseorang yang belum ku ketahui siapa dan dimanakah engkau berada. Tapi aku yakin, pertemuan itu akan tiba. Entah kapan…. Tapi sungguh aku yakin

Kakandaku sayang...
Aku sangat bersyukur kepada Allah atas pernikahan ini, atas dipilihnya engkau sebagai pendampingku, atas dipilihnya engkau sebagai kekasih hatiku. Aku juga bersyukur bahwa Allah telah mempertemukan aku dengan mu untuk menjalani sisa kehidupan ini bersamamu.

Kakandaku sayang...
Aku bukanlah manusia sempurna yang terbebas dari salah. Aku hanyalah seorang hamba yang ingin menyempurnakan separuh agama, melaksanakan sunnah Nabi seperti para sahabatku yang lainnya. Aku hanyalah seorang pengembara yang baru saja menemukan pulau tambatan hati, setelah sekian lama terombang-ambing dalam gelombang kebingungan dan kebimbangan, hingga Allah menurunkan rizki-Nya kepadaku berupa dirimu, sebagai tempat pelipur lara, sebagai tempat berkasih sayang, sebagai tempat berkeluh kesah, sebagai tongkat penunjuk jalan, sebagai pelita dalam kegelapan, sebagai embun di kala dahaga, sebagai tempat berteduh di kala panas, sebagai selimut di kala dingin, sebagai peredam duka di kala emosi, sebagai tempat berpangku mesra di kala gundah gulana dan sebagai tempat mengadu di kala ragu dan buntu.

Kakandaku sayang...
Aku menyadari siapa diriku, maka aku tak ingin meminta lebih kepadamu. Aku tak inginkan engkau setampan Nabi Yusuf, atau secerdas Ali Bin Abi Thalib, atau sekaya Nabi Sulaiman, atau segagah nabi Daud, atau sekuat Umar bin Khattab, atau sehalus Utsman bin Affan, atau sesabar Abu Bakar As-Shiddiq. Aku hanya ingin engkau seperti apa adanya, yang menangis di kala sedih, yang marah di kala terluka dan tersenyum di kala bahagia. Aku tidak menginginkan engkau sesempurna insan pilihan Allah/Nabiyullah, sebab aku sadar bahwa aku pun tidak sempurna. Yang aku inginkan adalah bahwa kita saling menjaga agar bisa meneladani akhlak para Nabi, sahabat dan shahabiyah

Kakandaku sayang...
Tahukah engkau??? Saat engkau datang bersama keluargamu untuk mengkhitbahku. Aku menangis terharu, bumi yang kupijak seakan bergoyang. Aku tak kuasa menahan rasa bahagia saat itu, saat engkau mengungkapkan tujuan untuk melamarku. Perasaan berkecamuk memenuhi pikiranku. Rasa sedih dibalut bahagia, rasa khawatir dibalut ketenangan. Penantian panjang dan melelahkan yang menghabiskan hampir separuh nafasku, yang membuatku terbangun di kala malam mengadukan nasib pada Illahi Robbi, menangis dalam sujud panjang, menangis di sela-sela rintihan dan doa seraya bertanya kapan masa itu akan hadir menjemputku. Masa-masa yang menggetarkan jiwa, menyenangkan hati dan membuat orang normal seperti orang yang kekurangan akal, masa yang hakikatnya seperti berjalan di atas titian besi panas hingga mampu menjerumuskan mereka yang tidak sabar akan datangnya masa bahagia itu.

Kakanda…tibanya masa itu merupakan rahmat yang tiada tara bagi para hamba yang bersyukur, yang menyadari bahwa pernikahan itu adalah sebuah perjuangan dan bukanlah sebuah permainan. Pernikahan itu sebuah ibadah bukan penyebab segala masalah.

Sayangku…
Jika engkau mengharapkan kecantikan, kesempurnaan fisik dan penampilan, ketahuilah aku hanyalah seorang manusia biasa yang penuh cacat dan cela. Aku tidak secantik Zulaikha, atau secerdas Aisyah, atau sezuhud Khadijah atau semulia Maryam. Aku juga tidak se-shalehah Asiah yang bersuamikan Fir'aun. Jika engkau menginginkan semua sifat itu ada padaku, maka aku berlindung pada Allah atas kelemahan diriku. Tapi jika engkau mendoakan aku memiliki sifat mulia mereka, maka aku akan amat sangat bersyukur pada Allah atas doamu juga atas karuniaNya karena telah mempertemukanku dengan lelaki agung sepertimu.

Sayangku...
Aku dan engkau akan tahu, kita akan menghadapi masa-masa akan datang bersama-sama, masa yang kadang indah untuk dikenang, atau pahit untuk diingat. Semua tergantung seberapa besar hati ini mau melapangkan jalan untuk menerima apapun kondisi itu.

Sayangku...
Jika salah satu sudut hatimu pada saat ini sudah terisi untukku, maka sudut-sudut yang lain isilah dengan Rabb Sang Pencipta Alam Semesta. Jangan kau isi semua sudut hatimu dengan diriku atau dengan yang lain kecuali Tuhanmu Allah SWT, sebab aku tidak akan sanggup menjagamu bahkan menjaga hatimu, hanya Allah-lah yang bisa menjagamu, menjaga hati dan jiwamu, menjaga fisik dan ragamu. Engkau mungkin bisa melupakan aku jika aku berbuat kesalahan, engkau bisa saja membuang sudut hati tempatku berpijak dan mengganti dengan orang lain yang sesuai dengan keinginanmu, tapi engkau tidak akan bisa melupakan Rabb pemilik hatimu. Dan aku lebih nyaman jika hatimu dikuasai oleh Pemilik Alam Semesta, daripada dikuasai oleh aku atau apapun itu.

Sayangku...
Insya Allah kita akan menjalani tahap-tahap usia pernikahan kita. Pada tahun pertama pernikahan kita, kuharap engkau mau lebih bersabar, mau memahami lebih dalam perbedaan-perbedaan antara kita, sebab kita adalah dua orang asing yang harus mengayuh perahu bersama, jika kita tidak bisa bekerja sama dan saling mengerti serta menghormati, aku khawatir perahu ini tenggelam ketika baru saja kita meninggalkan pantai. Pada tahun kedua hingga tahun kelima, kuharap engkau sudah mengerti tentang diriku, tentang sifat dan tingkah lakuku. Saat itu mungkin anak pertama kita akan lahir dan tanggung jawab kita sebagai orangtua baru dimulai.

Sayangku...
Bantu aku menjadi seorang ibu kuat. Maafkan aku jika menjadi lebih cerewet mungkin karena diri sudah merasa capai dan lelah. Aku tahu mungkin pada saat itu kehidupan kita masih belum mapan. Tapi aku yakin anak-anak kita yang masih lucu akan mampu menghapus semua duka dan lara, lelah dan letih serta rasa penat dan dahaga karena tugas kita. Tugasku sebagai madrasah yang memberi pendidikan agama dan nilai luhur seperti yang dilakukan oleh para orang shaleh pendahulu kita, dan tugasmu membantumu membumikan pendidikan itu.

Sayangku...

Pada tahun kelima hingga kesepuluh, mungkin kita akan didera oleh kondisi keuangan karena saat itu kebutuhan kita akan meningkat, anak-anak beranjak ke sekolah dan kebutuhan rumah tangga akan meningkat. Aku memohon kepadamu, bantu aku dengan doa-doamu, dengan dhuha dan tahajudmu dengan zikir dan shodaqohmu, semoga masa-masa sulit segera pergi hingga Allah memenuhi janjinya kepada kita.

Pada tahun kesepuluh hingga keduapuluh, mungkin Allah akan mengalirkan rezeki yang lebih banyak dan berkah kepada kita, kehidupan mulai mapan, kesejahteraan mulai datang, dan anak-anak mulai dewasa.

Sayangku...
Istiqomahkanlah hatimu,kuatkan batin dan jiwamu agar aku tidak terperosok kedalam jurang kenistaan, karena godaan dunia berupa harta tahta dan wanita.

Sayangku...
Sadarkan aku tentang umur dan usiaku yang mulai menua juga temperamenku yang mulai meninggi dimakan usia. Bantu aku bersahabat dengan anak-anak kita, berikan mereka pengertian tentang arti kehidupan sesungguhnya, karena sebentar lagi mereka akan memilih jalannya masing-masing.

Pada tahun ketigapuluh dan sesudahnya, aku tak tahu apakah kita akan sampai disitu, yang jelas kita akan kembali berdua, anak-anak lelaki kita akan pergi dan anak perempuan akan mengikuti suaminya. Kita hanyalah sepasang manusia renta yang tak bisa melawan takdirnya. Kuingin saat itu, hari-hari kita hanya dipenuhi dzikir dan tasbih, dipenuhi munajat dan doa, seraya menunggu utusan Tuhan datang menjemput.

Sayangku...
Aku ingin engkau dan aku tetap menjadi pasangan didunia dan akhirat, jadi kumohon kita saling menjaga dengan do’a, saling memberi peringatan dan tausiyah agar tujuan pernikahan ini sesuai dengan yang kita harapkan. Terakhir aku ingin kadoku ini menjadi prasasti cinta kita, yang tertanam jauh di lubuk hati, sehingga jika terjadi goncangan, kita selalu kembali ke komitmen awal pernikahan.

Istrimu
Imun Mulyaningsih




Kamis, 25 Juli 2013

GENAP

Ada tulisan keren nih, tapi copas dari tetangga sebelah hahaha. Excited banget pengen upload coz tulisannya baguuuuuus pake banget. Simak nyok…

Kalau jodoh harus dijemput, jangan pernah membuat orang yang kamu jemput itu menunggu. Jikapun terpaksa, tak perlu berlama-lama. Karena dia akan sampai pada jodohnya, dengan atau tanpa kamu. Kalau memang dia adalah jodoh kamu, kamu akan membersamainya. Tapi jika dia bukan jodoh kamu, tolong jangan jadi penghalang baginya untuk menemukan jodoh yang lebih tepat daripada kamu. Lakukan apa saja selama itu baik untuk mendapatkannya, tapi jangan pernah memintanya menunggu tanpa kepastian. Menunggu saja sudah melelahkan, apalagi ditambah dengan ketidakpastian. Tentu berkali-kali lebih melelahkan. 

Kamu memintaku untuk bersabar atas nama cinta. Kamu harus tahu, tak mau menunggu bukan berarti aku tidak sabar. Aku hanya berusaha untuk bergerak dari satu takdir ke takdir lainnya. Dari seorang kamu ke laki-laki lain, yang semoga jauh lebih baik dan tepat untuk menggenapi hidupku kelak. Lagipula, perempuan yang cerdas harusnya menyadari, bahwa tidak semua laki-laki layak ditunggu untuk menggenapi hidupnya. Dan maaf, laki-laki yang tidak bisa memberi kepastian adalah salah satu golongan laki-laki yang tidak layak untuk ditunggu. 

Kamu bilang, cinta itu butuh pengorbanan. Dan menunggu adalah salah satu bentuknya. Aku juga ingin bilang, cinta itu tanggung jawab. Jadi jangan bicara tentang cinta jika kamu tidak berani untuk mengambil tanggung jawab atas kehidupan dunia akhirat perempuan yang katanya kamu cintai itu. Tanggung jawab yang selayaknya kamu ambil dengan menggenapi hidupnya. Bukan malah menghindar dari tanggungjawab yang kamu bungkus dengan kalimat; tunggu, sampai aku benar-bena siap. Laki-laki yang bertanggung jawab itu memberikan komitmen, bukan sekedar janji. Dan tak ada komitmen yang bisa berdiri kokoh di atas ketidakpastian. 

Kamu bilang, cinta itu butuh pengorbanan. Mungkin ada benarnya. Tapi cinta yang tulus, tidak akan pernah menyakiti. Mungkin akan membutuhkan banyak pengorbanan, tapi pengorbanan yang membahagiakan. Bukan pengorbanan yang disesali. Dan tak ada bahagia-bahagianya perempuan yang menunggu laki-laki yang tidak memberi kepastian. Jikapun ada, itu sedikit sekali dibandingkan dengan rasa cemas dan khawatir yang dirasakan. Dan kebahagian yang sedikit itu juga bukan berasal dari proses menunggu, tapi dari proses berharap, yang rentan sekali mendatangkan kecewa. 

Memang, tidak semua orang beruntung bisa memiliki orang yang dicintainya, tapi kita selalu bisa mencintai siapa yang sudah kita miliki. Memang, menyenangkan memiliki apa atau siapa yang kita cintai. Tapi kita bukan hanya bisa memulainya dari mencintai, kita juga bisa memulainya dari memiliki. Tak mesti mencintai dulu lalu memiliki. Bisa juga bisa memiliki lantas mencintai. Bahkan seharusnya, mencintai apa yang sudah kita miliki jauh lebih mudah daripada mencintai apa yang belum kita miliki. Dan aku tak mau hidupku jadi lebih rumit hanya karena ketidakpastian darimu. Jadi, selamat tinggal! 


***

Ni yang terakhiran baru dah tulisan aye. Ga kalah keren dah ama tulisan nyang diatas hehe.
Kamu tahu ??? Tidak semua perasaan layak untuk diungkapkan. Perasaan hanya butuh penguatan dan pengingatan untuk tetap berada dala koridor kebaikan.
Seperti dulu, terjadi sesuatu dengan hati ini. Ketika aku pernah terlupa, entah sadar atau tidak saat itu. Tapi yang pasti aku tak mau kembali ke masa kelam itu. Ketika hati ini dipenuhi virus yang kian hari kian menggerogoti imanku, orang sih bilangnya itu Virus Merah Jambu.
Well…tapi sekarang, hati ini sudah menemukan pelabuhan sesungguhnya pelabuhan Cinta-Nya. DIA yang telah banyak menyembuhkan luka di hati ini. Menyuburkan rasa ikhlas dan damai di hati. Sendiri memang melelahkan, menunggu memang menjemukan. Tapi selalu ada DIA yang menjadi penghiburku. Aku sadar DIA selalu punya cara istimewa untuk membuatku bahagia. Aku mengerti bahwa untuk bahagia tidak perlu melukai perasaan orang lain. Bahkan jika orang itu adalah orang yang melukai perasaanku.

Rabu, 03 Juli 2013

KEMBALI AKU


Syahdu malam penuh kehangatan,
kehangatan cintaMu Ya Rabb
Gemerisik dedaunan lembut mendendangkan irama malam
Menyapa anggun nuraniku yang syahdu
Titik titik air mata kian menganak sungai membasahi pipi
Aku kian hanyut dalam sujud panjang penuh penyesalan
Rabbana…Engkau menjadi saksi azzam dalam kalbu ini
Aku tak mau lagi melabuhkan cinta ini selain kepadaMu
Karena sungguh tiada keindahan disana
Dahysatnya penyesalan seakan tak jua mengobati hati
Pilunya hingga ke ubun-ubun
Perihnya hingga menusuk batin
Tak mau lagi, meski hanya sekali namanya kusebut lagi
Sungguh tak mau lagi

Rabbana…peluk aku
Hingga aku terlelap di pangkuan-Mu…
Tentang hati, tentang rindu ini, tentang cinta ini,
tentang ego ini, tentang keangkuhan ini
Damaikanlah Ya Rabb
Damaikan jiwaku atas ketentuan-Mu

Aku tahu cinta ini tak semestinya hadir bahkan hingga menyubur
Sejak awal mestinya kusadari bahwa Kau ciptakan dia bukan untukku
Kau hanya mengirimnya sebagai ujian bagiku
tentang arti kesungguhan cintaku pada-Mu
tentang arti keyakinan azzamku pada-Mu
tentang arti perjuanganku dijalan-Mu
Kini aku bersimpuh kepada-Mu
Dengan membawa serakan cinta yg masih tercecer
Sungguh malu rasanya…
Lagi-lagi ketika hancur, ketika jatuh, ketika sedih, ketika kecewa
Lagi-lagi aku kembali pada-Mu
Pada akhirnya padaMulah tempat ku berserah diri
Pada akhirnya padaMulah tempat ku kembali
Atas cinta abadi-Mu untukku
Tak akan pernah lagi ku ganti dengan yang lain
Meski hanya sedetik
Hanya sedetik…
Sedetik pun tak akan pernah ku ganti

Rabu, 06 Maret 2013

Waiting for You


Rindu ini kian menjadi tumpukan debu yang begitu usang. Hilir mudik bayangan tak bernama melukis imajiku. Aku selalu tak mampu membentuk bayangnya.

Hhhhhhhh….ku hela nafas yang terasa kian menyesakkan qolbu. Hujan yang terderai saja seperti mengerti rasa yang kian mengguncang jiwa ini. Aku resah tak mampu jua menggambarkannya dalam anganku. Namun entah mengapa rindu ini seakan siap mencabik jiwaku, seakan siap mencacah ilusiku, seakan siap merrobek batinku.

Rasanya aku perlu istirahat sejenak untuk berdialog dengan hatiku atau sekedar untuk mengumpulkan asaku yang berserakan atau sekedar untuk menghimpun ghirohku yang kian hari kian berhamburan.

 “Assalamu’alaikum hujan” sapaku pada tetesan langit, sang penyejuk yang penuh‘arif. Sekedar ingin berbagi padanya, karena aku tak siap dikhianati lagi jika berbagi pada manusia.
  

Senja semakin menua, horizon menyelimuti malam yang penuh misteri, disana menyatu dengan nama mu yang belum aku kenal, dan aku harus bersabar menanti saat-saat terindah kau menjemputku tuk arungi samudera mahligai nan suci.

Rabu, 06 Februari 2013

Samudera Hati


Dalam tiap kata yang terucap, dalam setiap goresan pena yang tertoreh. Terungkap semua luapan cerita hati yang tak tertahan lagi. Menenangkan jiwa yang meradang, menentramkan batin yang bergejolak bercampur menjadi sebuah kisah dalam dimensi waktuku. Berceloteh tentang kebahagiaan dan kesedihan yang ramai mengisi ruang-ruang waktuku.

Perjalanan ini teramat berat, melelahkan. Akan tetapi anganku menguatkan, bahwa harapan itu masih ada. Mencoba menikmati setiap prosesnya. Semua pasti selalu ada hikmahnya. Mungkin kadang kita saja yang terlambat untuk memaknainya. Terus berusaha merayu padaNya, hingga masa indah itu akan datang pada waktunya. Meyakini dan percaya akan ayat-ayat cintaNya yang diresapi maknanya sebagai obat hati ini. Suatu saat nanti, akan datang suatu masa yang indah ketika memang diri ini sudah pantas sampai pada masa itu.

Satu-satunya cara untuk menglupakan musibah dalam pikiran adalah dengan melenyapkannya dari pikiran. Aku tidak punya waktu untuk dikasihani. Jangan sampai energiku habis hanya untuk menyesali diri. Detik ini, aku tengah menyalurkan energiku untuk sebuah karya besar yang masih tertunda. Ini adalah saatnya aku untuk bangkit berkarya, menuntaskan apa yang belum selesai.


Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
(“Aku” Chairil Anwar)


Di kedalaman hati ini. Hanya KAU yang bisa menggapai segala yang tersembunyi. Hanya KAU yang mampu menemukan. Bagaimana aku bisa menghindariMu?

Airmata ini adalah refleksi batinku yang merindu. Sikapku mungkin bisa terbaca oleh semua mata. Lisanku yang bertutur mungkin terdengar terbata. Pedih, perih, lara apapun biar hanya aku yang rasa. Sebuah konspirasi yang kian meraja. Jangan salah mengadu sahabat. Cukup Allah tempat mengadu.

Jika aku mampu berlari meninggalkan jejak liku, karena ada satu arah yang kutuju. Aku tau, Kau pasti cemburu karena azzamku tak menghujam sekuat dulu. Langkahku bukan seribu seperti dulu lagi. Rehatku melebihi helaan nafasku. Aku masih menyimpan debaran itu. Hanya butuh ingatan tentangMu saja. Kadang khilaf merenggut diriku dari istiqomah. BagiMu mudah merenggut bagianku, jika KAU mau.


Aku sadar tak ada cinta seperti cintaMu. Ketika salah langkah derapku, aku bertanya pada hati sebelum kian menjauh. Jawabannya ternyata adalah CINTAMU. Pada akhirnya hadir kekuatan baru jiwaku. Pada akhirnya, kelemahan hanyalah pilihan. Pada akhirnya bertahan untukMu atau mati perlahan tanpa arti. Sungguh, CintaMu adalah kekuatanku. Dan jadikan aku sekuat pejuang-pejuangMu Ya Allah

Rabu, 30 Januari 2013

Salah jika Jilbabku Selebar ini? Tanya Kenapa?




SALAH JIKA JILBABKU LEBAR ???
Aku hanya ingin taat kepada Allah yang telah menciptakanku dengan sebenar-benarnya taat.
Aku hanya ingin taat kepada Allah yang telah menyempurnakan kejadian-kejadian.
Aku hanya ingin taat kepada Allah yang telah mengkaruniakan rizki yang tak terhingga,
Aku hanya ingin taat kepada Allah yang telah  mengkaruniakan hidayah pada hati ini, yang telah melindungi dan menolongku dari jerat kemaksiatan.

SALAH JIKA JILBABKU SELEBAR INI ???
Sungguh aku hanya ingin taat kepada Allah dengan sebenar-benarnya taat. Sungguh karena perintah berhijab seperti ini tertulis dalam firmanNya.

(“…Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya…” [QS. An-Nuur 24:31]) Sekali lagi karena aku hanya ingin taat kepada Allah dengan sebenar-benarnya taat. Sungguh karena aku hanya ingin taat kepada Rasul-Nya, pembimbing ummat dengan risalah beliau.



SALAH JIKA JILBABKU SELEBAR INI ???
Aku hanya ingin memperoleh ridhoNya. Sungguh aku hanya ingin menjaga diri dari tangan-tangan usil yang ingin menjamah. Sungguh aku hanya ingin menjaga iffah (kehormatan) diri dari belenggu kehinaan yang merendahkanku dengan pandangan-pandangan liar penuh nafsu yang hanya buat sekedar “cuci mata”. Na’udzubillah

Sungguh aku hanya ingin taat kepada Allah dengan sebenar-benarnya taat. Aku hanya sedang belajar menjadi wanita sholihah yang dirindukan Syurga dan membuat para bidadaripun cemburu. Sungguh aku hanya ingin meninggikan izzahku (kemuliaan) sebagai wanita muslimah.

Sungguh aku hanya ingin taat kepada Allah dengan sebenar-benarnya taat. Sungguh ini adalah identitasku sebagai wanita muslimah, sebagai wujud rasa syukurku atas nikmatNya yang tiada pernah terputus. Sungguh aku hanya berharap kelak hijab yang ku kenakan ini dapat menjauhkanku dari azab panasnya api neraka di kemudian hari. Bukan karena mengikuti trend atau hanya sekedar buat gaya-gayaan atau juga hanya untuk berlagak sok suci atau terlihat ekstrim.

SUNGGUH AKU HANYA TAAT KEPADA ALLAH dan RASULULLAH DENGAN SEBENAR-BENARNYA TAAT.

SALAH JIKA JILBABKU SELEBAR INI???

Selasa, 29 Januari 2013

Ukhuwah Tak Perlu Diperjuangkan. Tanya Kenapa?

Kenapa ukhuwah tak perlu diperjuangkan?

Karena ia hanyalah akibat dari iman. 


Aku ingat pertemuan pertama denganmu ukhti sayang.  


 Dalam dua detik saja, bayangkan hanya dua detik saja aku telah merasakan perkenalan merasakan persaudaraan bahkan keterikatan hati. Karena sesungguhnya ruh-ruh kita yang saling menyapa. 


Berpeluk mesra dengan iman yang menyala, saling mufakat meski tak tahu nama dan tak saling sebut nama. 


Meski tangan belum sempat saling berjabat. 

Ku baca lagi firman Allah. "Sungguh tiap mukmin bersaudara". 



Aku makin tau, persaudaraan tak perlu diperjuangkan. Karena saat ikatan melemah, keakraban merapuh. Saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan terasa menyiksa, saat pemberian serasa bara api dan saat kebaikan justru melukai. Aku tahu, yang rombeng bukanlah ukhuwah kita. Hanya  iman-iman kita yang sedang sakit, menjerit. Mungkin kita, atau kau saja. 
Tentu terlebih sering imankulah yang compang camping.

Ku baca lagi firman itu ukhti sayang dan aku makin tahu, mengapa dikala kita diancamkan Sang Kekasih di hari itu. Sebagian menjadi musuh sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa