Lama blog ini tidak terurus, maka
kali ini cinta yang menjadi inspirasi awal tulisan ini. Tak pernah bosan dan
tak akan letih ketika kita membicarakan tentang cinta.
Cinta yang membuat Romeo
menenggak racun melihat kekasih hatinya Juliet terkapar, cinta juga yang
membuat Majnun seperti kehilangan akal. Biarkan cerita cinta dalam roman-roman picisan
ditentukan oleh para pesyair. Biarlah cinta ini hanya Allah yang menjaga,
biarkan DIA yang menjadikan scenario cinta ini.
Namun cinta yang hadir dalam diri
ini kuyakinkan takkan membuhuhku. Karena sejatinya cinta adalah fitrah yang berlaku atas makhlukNya dan cinta adalah pesan
agung Sang Maha Pencinta pada manusia. Harusnya cinta menjadikan hidup
lebih bergairah bukannya justru melemahkan. Harusnya cinta membuat hidup
berenergi bukannya malah menyakiti.
Biarlah cinta yang begitu fitrah
hanya ditambatkan pada Sang Maha Pencinta, yang menghadirkan cinta di hati-hati
manusia. Menghadirkan cinta seorang ibu pada anaknya, menghadirkan cinta
seorang istri pada suaminya, menghadirkan cinta seorang guru pada muridnya,
menghadirkan cinta seorang pemimpin pada rakyatnya. Namun harus kita sadari, DIA
juga yang berhak mencabut cinta hingga ke akar.
Bila belum siap meminang
seseorang dengan Al-Qur’an, cukup cintai ia dalam diam. Bila belum siap
melangkah lebih jauh dengan seseorang, cukup cintai ia dalam diam. Karena
diammu adalah salah satu bukti cintamu padanya. Karena diammu, memuliakan dia
dengan tidak mengajaknya menjalin hubungan yang terlarang. Kau tak mau merusak
kesucian dan penjagaan hatinya.
Karena diammu bukti kesetiaanmu padanya. Mungkin saja orang yang kau cinta
adalah juga orang yang telah ALLAH pilihkan untukmu. Bukankah lebih indah jika
semua dilalui dengan proses yang ALLAH ridhoi?
Ingatkah tentang kisah Fatimah
dan ALi ? Yang keduanya saling memendam apa yang mereka rasakan, bahkan syetan
saja tidak tahu. Hingga akhirnya ALLAH pertemukan mereka dalam ikatan suci nan
indah dipenuhi keberkahanNya.
Karena dalam diammu tersimpan
kekuatan, kekuatan harapan. Hingga Allah akan membuat harapan itu menjadi nyata
hingga cintamu yang diam itu dapat berbicara dalam kehidupan nyata. Bukankah
Allah tak akan pernah memutuskan harapan hamba yang berharap padaNya?
Dan jika memang 'cinta dalam
diammu' itu tak memiliki kesempatan untuk berbicara di dunia nyata, biarkan ia
tetap diam. Jika dia memang bukan milikmu, toh Allah bersama waktu akan
menghapus 'cinta dalam diammu' itu dengan memberi rasa yang lebih indah pada
orang yang lebih tepat.Biarkan 'cinta dalam diammu' itu menjadi memori
tersendiri dan sudut hatimu. Menjadi rahasia antara kau dengan Sang Pemilik
hati.
Tidaaaaaak, semua sudah terlanjur
terungkap. Cinta sudah terlanjur tercurah, rasa sayang sudah terlanjur subur.
Saat semua sudah terjadi dengan percuma, biarlah ALLAH yang menjadi penentram
hati yang luka. Duhai hati yang tak mampu menjaga diri dari hadirnya cinta yang
begitu murni. Tidak ada kata terlambat untuk mensucikan hati. Sungguh ALLAH
sebaik-baiknya penerima taubat.
Catatan hati seorang yang
terluka:
“Dalam hidupku, aku tidak bisa
melupakanmu barang sesaat pun. Kupendam cintaku demikian lama, tanpa mampu
menceritakannya kepada siapapun. Engkau memaklumkan cintamu dilabuhkan pada
cinta yang lain, sementara aku membakarnya di dalam hatiku bersama kesendirian
bersama rasa sakit yang kau torehkan. Kini, aku harus menghabiskan hidupku
dengan seseorang, padahal segenap jiwaku sudah hilang bersama jiwamu yang pergi
kian menjauh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar