Kata ini tertulis untuk seseorang yang belum ku ketahui siapa
dan dimanakah engkau berada. Tapi aku yakin, pertemuan itu akan tiba. Entah
kapan…. Tapi sungguh aku yakin
Kakandaku sayang...
Aku sangat bersyukur kepada Allah atas pernikahan ini, atas
dipilihnya engkau sebagai pendampingku, atas dipilihnya engkau sebagai kekasih
hatiku. Aku juga bersyukur bahwa Allah telah mempertemukan aku dengan mu untuk
menjalani sisa kehidupan ini bersamamu.
Kakandaku sayang...
Aku bukanlah manusia sempurna yang terbebas dari salah. Aku
hanyalah seorang hamba yang ingin menyempurnakan separuh agama, melaksanakan
sunnah Nabi seperti para sahabatku yang lainnya. Aku hanyalah seorang
pengembara yang baru saja menemukan pulau tambatan hati, setelah sekian lama
terombang-ambing dalam gelombang kebingungan dan kebimbangan, hingga Allah
menurunkan rizki-Nya kepadaku berupa dirimu, sebagai tempat pelipur lara,
sebagai tempat berkasih sayang, sebagai tempat berkeluh kesah, sebagai tongkat
penunjuk jalan, sebagai pelita dalam kegelapan, sebagai embun di kala dahaga,
sebagai tempat berteduh di kala panas, sebagai selimut di kala dingin, sebagai
peredam duka di kala emosi, sebagai tempat berpangku mesra di kala gundah
gulana dan sebagai tempat mengadu di kala ragu dan buntu.
Kakandaku sayang...
Aku menyadari siapa diriku, maka aku tak ingin meminta lebih
kepadamu. Aku tak inginkan engkau setampan Nabi Yusuf, atau secerdas Ali Bin
Abi Thalib, atau sekaya Nabi Sulaiman, atau segagah nabi Daud, atau sekuat Umar
bin Khattab, atau sehalus Utsman bin Affan, atau sesabar Abu Bakar As-Shiddiq. Aku
hanya ingin engkau seperti apa adanya, yang menangis di kala sedih, yang marah
di kala terluka dan tersenyum di kala bahagia. Aku tidak menginginkan engkau sesempurna
insan pilihan Allah/Nabiyullah, sebab aku sadar bahwa aku pun tidak sempurna.
Yang aku inginkan adalah bahwa kita saling menjaga agar bisa meneladani akhlak
para Nabi, sahabat dan shahabiyah
Kakandaku sayang...
Tahukah engkau??? Saat engkau datang bersama keluargamu untuk mengkhitbahku.
Aku menangis terharu, bumi yang kupijak seakan bergoyang. Aku tak kuasa menahan
rasa bahagia saat itu, saat engkau mengungkapkan tujuan untuk melamarku.
Perasaan berkecamuk memenuhi pikiranku. Rasa sedih dibalut bahagia, rasa
khawatir dibalut ketenangan. Penantian panjang dan melelahkan yang menghabiskan
hampir separuh nafasku, yang membuatku terbangun di kala malam mengadukan nasib
pada Illahi Robbi, menangis dalam sujud panjang, menangis di sela-sela rintihan
dan doa seraya bertanya kapan masa itu akan hadir menjemputku. Masa-masa yang
menggetarkan jiwa, menyenangkan hati dan membuat orang normal seperti orang
yang kekurangan akal, masa yang hakikatnya seperti berjalan di atas titian besi
panas hingga mampu menjerumuskan mereka yang tidak sabar akan datangnya masa
bahagia itu.
Kakanda…tibanya masa itu merupakan rahmat yang tiada tara bagi
para hamba yang bersyukur, yang menyadari bahwa pernikahan itu adalah sebuah
perjuangan dan bukanlah sebuah permainan. Pernikahan itu sebuah ibadah bukan
penyebab segala masalah.
Sayangku…
Jika engkau mengharapkan kecantikan, kesempurnaan fisik dan
penampilan, ketahuilah aku hanyalah seorang manusia biasa yang penuh cacat dan
cela. Aku tidak secantik Zulaikha, atau
secerdas Aisyah, atau sezuhud Khadijah atau semulia Maryam. Aku juga tidak se-shalehah Asiah yang bersuamikan Fir'aun. Jika engkau menginginkan semua sifat itu ada padaku, maka aku berlindung pada Allah atas kelemahan diriku. Tapi jika engkau mendoakan aku memiliki sifat mulia mereka, maka aku akan amat sangat bersyukur pada Allah atas doamu juga atas karuniaNya karena telah mempertemukanku dengan lelaki agung sepertimu.
Sayangku...
Aku dan engkau akan tahu, kita akan menghadapi masa-masa akan
datang bersama-sama, masa yang kadang indah untuk dikenang, atau pahit untuk
diingat. Semua tergantung seberapa besar hati ini mau melapangkan jalan untuk
menerima apapun kondisi itu.
Sayangku...
Jika salah satu sudut hatimu pada saat ini sudah terisi untukku, maka sudut-sudut yang lain isilah dengan Rabb Sang Pencipta Alam Semesta. Jangan kau isi semua sudut hatimu dengan diriku atau dengan yang lain kecuali Tuhanmu Allah SWT, sebab aku tidak akan sanggup menjagamu bahkan menjaga hatimu, hanya Allah-lah yang bisa menjagamu, menjaga hati dan jiwamu, menjaga fisik dan ragamu. Engkau mungkin bisa melupakan aku jika aku berbuat kesalahan, engkau bisa saja membuang sudut hati tempatku berpijak dan mengganti dengan orang lain yang sesuai dengan keinginanmu, tapi engkau tidak akan bisa melupakan Rabb pemilik hatimu. Dan aku lebih nyaman jika hatimu dikuasai oleh Pemilik Alam Semesta, daripada dikuasai oleh aku atau apapun itu.
Jika salah satu sudut hatimu pada saat ini sudah terisi untukku, maka sudut-sudut yang lain isilah dengan Rabb Sang Pencipta Alam Semesta. Jangan kau isi semua sudut hatimu dengan diriku atau dengan yang lain kecuali Tuhanmu Allah SWT, sebab aku tidak akan sanggup menjagamu bahkan menjaga hatimu, hanya Allah-lah yang bisa menjagamu, menjaga hati dan jiwamu, menjaga fisik dan ragamu. Engkau mungkin bisa melupakan aku jika aku berbuat kesalahan, engkau bisa saja membuang sudut hati tempatku berpijak dan mengganti dengan orang lain yang sesuai dengan keinginanmu, tapi engkau tidak akan bisa melupakan Rabb pemilik hatimu. Dan aku lebih nyaman jika hatimu dikuasai oleh Pemilik Alam Semesta, daripada dikuasai oleh aku atau apapun itu.
Sayangku...
Insya Allah kita akan menjalani tahap-tahap usia pernikahan kita.
Pada tahun pertama pernikahan kita, kuharap engkau mau lebih bersabar, mau
memahami lebih dalam perbedaan-perbedaan antara kita, sebab kita adalah dua
orang asing yang harus mengayuh perahu bersama, jika kita tidak bisa bekerja
sama dan saling mengerti serta menghormati, aku khawatir perahu ini tenggelam
ketika baru saja kita meninggalkan pantai. Pada tahun kedua hingga tahun kelima,
kuharap engkau sudah mengerti tentang diriku, tentang sifat dan tingkah lakuku.
Saat itu mungkin anak pertama kita akan lahir dan tanggung jawab kita sebagai
orangtua baru dimulai.
Sayangku...
Bantu aku menjadi seorang ibu kuat. Maafkan aku jika menjadi
lebih cerewet mungkin karena diri sudah merasa capai dan lelah. Aku tahu mungkin
pada saat itu kehidupan kita masih belum mapan. Tapi aku yakin anak-anak kita
yang masih lucu akan mampu menghapus semua duka dan lara, lelah dan letih serta
rasa penat dan dahaga karena tugas kita. Tugasku sebagai madrasah yang memberi
pendidikan agama dan nilai luhur seperti yang dilakukan oleh para orang shaleh
pendahulu kita, dan tugasmu membantumu membumikan pendidikan itu.
Sayangku...
Pada tahun kelima hingga kesepuluh, mungkin kita akan didera
oleh kondisi keuangan karena saat itu kebutuhan kita akan meningkat, anak-anak
beranjak ke sekolah dan kebutuhan rumah tangga akan meningkat. Aku memohon
kepadamu, bantu aku dengan doa-doamu, dengan dhuha dan tahajudmu dengan zikir
dan shodaqohmu, semoga masa-masa sulit segera pergi hingga Allah memenuhi
janjinya kepada kita.
Pada tahun kesepuluh hingga keduapuluh, mungkin Allah akan mengalirkan rezeki yang lebih banyak dan berkah kepada kita, kehidupan mulai mapan, kesejahteraan mulai datang, dan anak-anak mulai dewasa.
Sayangku...
Istiqomahkanlah hatimu,kuatkan batin dan jiwamu agar aku tidak
terperosok kedalam jurang kenistaan, karena godaan dunia berupa harta tahta dan
wanita.
Sayangku...
Sadarkan aku tentang umur dan usiaku yang mulai menua juga
temperamenku yang mulai meninggi dimakan usia. Bantu aku bersahabat dengan
anak-anak kita, berikan mereka pengertian tentang arti kehidupan sesungguhnya,
karena sebentar lagi mereka akan memilih jalannya masing-masing.
Pada tahun ketigapuluh dan sesudahnya, aku tak tahu apakah kita akan sampai disitu, yang jelas kita akan kembali berdua, anak-anak lelaki kita akan pergi dan anak perempuan akan mengikuti suaminya. Kita hanyalah sepasang manusia renta yang tak bisa melawan takdirnya. Kuingin saat itu, hari-hari kita hanya dipenuhi dzikir dan tasbih, dipenuhi munajat dan doa, seraya menunggu utusan Tuhan datang menjemput.
Sayangku...
Aku ingin engkau dan aku tetap menjadi pasangan didunia dan
akhirat, jadi kumohon kita saling menjaga dengan do’a, saling memberi
peringatan dan tausiyah agar tujuan pernikahan ini sesuai dengan yang kita
harapkan. Terakhir aku ingin kadoku ini menjadi prasasti cinta kita, yang
tertanam jauh di lubuk hati, sehingga jika terjadi goncangan, kita selalu
kembali ke komitmen awal pernikahan.
Istrimu
Imun Mulyaningsih


