Rabu, 06 Februari 2013

Samudera Hati


Dalam tiap kata yang terucap, dalam setiap goresan pena yang tertoreh. Terungkap semua luapan cerita hati yang tak tertahan lagi. Menenangkan jiwa yang meradang, menentramkan batin yang bergejolak bercampur menjadi sebuah kisah dalam dimensi waktuku. Berceloteh tentang kebahagiaan dan kesedihan yang ramai mengisi ruang-ruang waktuku.

Perjalanan ini teramat berat, melelahkan. Akan tetapi anganku menguatkan, bahwa harapan itu masih ada. Mencoba menikmati setiap prosesnya. Semua pasti selalu ada hikmahnya. Mungkin kadang kita saja yang terlambat untuk memaknainya. Terus berusaha merayu padaNya, hingga masa indah itu akan datang pada waktunya. Meyakini dan percaya akan ayat-ayat cintaNya yang diresapi maknanya sebagai obat hati ini. Suatu saat nanti, akan datang suatu masa yang indah ketika memang diri ini sudah pantas sampai pada masa itu.

Satu-satunya cara untuk menglupakan musibah dalam pikiran adalah dengan melenyapkannya dari pikiran. Aku tidak punya waktu untuk dikasihani. Jangan sampai energiku habis hanya untuk menyesali diri. Detik ini, aku tengah menyalurkan energiku untuk sebuah karya besar yang masih tertunda. Ini adalah saatnya aku untuk bangkit berkarya, menuntaskan apa yang belum selesai.


Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
(“Aku” Chairil Anwar)


Di kedalaman hati ini. Hanya KAU yang bisa menggapai segala yang tersembunyi. Hanya KAU yang mampu menemukan. Bagaimana aku bisa menghindariMu?

Airmata ini adalah refleksi batinku yang merindu. Sikapku mungkin bisa terbaca oleh semua mata. Lisanku yang bertutur mungkin terdengar terbata. Pedih, perih, lara apapun biar hanya aku yang rasa. Sebuah konspirasi yang kian meraja. Jangan salah mengadu sahabat. Cukup Allah tempat mengadu.

Jika aku mampu berlari meninggalkan jejak liku, karena ada satu arah yang kutuju. Aku tau, Kau pasti cemburu karena azzamku tak menghujam sekuat dulu. Langkahku bukan seribu seperti dulu lagi. Rehatku melebihi helaan nafasku. Aku masih menyimpan debaran itu. Hanya butuh ingatan tentangMu saja. Kadang khilaf merenggut diriku dari istiqomah. BagiMu mudah merenggut bagianku, jika KAU mau.


Aku sadar tak ada cinta seperti cintaMu. Ketika salah langkah derapku, aku bertanya pada hati sebelum kian menjauh. Jawabannya ternyata adalah CINTAMU. Pada akhirnya hadir kekuatan baru jiwaku. Pada akhirnya, kelemahan hanyalah pilihan. Pada akhirnya bertahan untukMu atau mati perlahan tanpa arti. Sungguh, CintaMu adalah kekuatanku. Dan jadikan aku sekuat pejuang-pejuangMu Ya Allah