Inginkah kamu sejelita bidadari surga?
Mengapa hati ini senantiasa bergetar ketika
kata ‘bidadari surga’ diperdengarkan.
Getar kecemburuan akan keindahan parasnya,
kesucian jiwanya, ketundukkan pandangnya.
“ Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang
tidak liar pandangannya dan jelita parasnya. Seolah-olah mereka adalah telur
yang tersimpan dengan baik.” (QS. ash-Shaffat: 48-49)
Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut dengan wanita-wanita yang pandai
menjaga kehormatannya, yakni tidak mengarahkan pandangan mereka kepada yang
bukan pasangannya. Paras mereka sangat jelita, matanya indah menawan,
penampilannya luar biasa cantik, pandai menjaga diri, takwa dan bersih. Allah
mensifati mereka dengan bentuk tubuh dan penampilan yang elok dan warna kulit
yang sangat mulus. Pendek kata, bidadari surga adalah kesempurnaan pesona
seorang wanita. Tak hanya pesona lahiriah, tapi juga batiniah. Kecantikan dari
luar, maupun kecantikan dari dalam. Mereka jelita, namun bertakwa. Allah
berfirman,“Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi
cantik-cantik.” (QS. Ar-Rahman: 70).
Pesona sang bidadari berpendar semakin kuat karena mereka juga disebutkan
bertubuh harum dan penuh dengan binar-binar cahaya. Diriwayatkan oleh Anas bin
Malik ra., bahwa Nabi Saw. pernah bersabda, “Seandainya seorang bidadari dari
surga menampakkan diri kepada penghuni bumi, niscaya cahaya tubuhnya dan bau
harumnya akan memenuhi ruang antara langit dan bumi, serta kerudung rambutnya
lebih indah dan lebih bernilai daripada dunia seisinya.” (HR. Bukhari no.
2796).
Silakan kamu mencari padanan wanita yang sejelita bidadari surga.
Monalisakah? Jenifer Lopez, atau Angelina Jolie, atau Ema Watson kah? Atau para
peraih titel Miss Universe atau Miss World. Tampaknya, kedahsyatan para
perempuan yang menggetarkan jagad karena kecantikannya itu, tak ada apa-apanya
dibanding para bidadari surga. Kehebatan mereka tak terpatahkan, kecuali oleh
kompetitor yang satu ini: PARA WANITA SHALIHAH!!!
Ya, wanita shalihah, meskipun di dunia memiliki wajah biasa-biasa saja,
ternyata mereka akan menandingi kemuliaan para bidadari ketika memasuki pintu
surga dan menapaki tanah surga yang “…merupakan tepung putih, beraroma kesturi
dan bersih” (HR. Muslim), serta memasuki bangunan di surga yang “batu batanya
dari emas dan perak, adukannya beraroma kesturi, kerikilnya mutiara lu’lu’ dan
mutiara yakut, tanahnya adalah za’rofan.” (HR. Ibnu Hibban, Ibnu Majah, Ahmad
dan Tirmidzi)
Ummu Salamah ra. bertanya kepada Rasulullah saw., “Ya Rasulullah,
beritakanlah kepada kami, mana yang lebih utama di surga, wanita di dunia
ataukah bidadari surga?”Rasulullah saw. lalu menerangkan bahwa perempuan dunia,
di surga sangat lebih utama dari pada biadadari surga karena shalat, puasa dan
ibadah yang dilakukan mereka. “Allah SWT memberi cahaya di wajah mereka, mereka
mengenakan sutera di tubuhnya, warna kulit mereka putih, pakaian mereka hijau,
perhiasan mereka kuning, pedupaan mereka mutiara dan sisir mereka adalah emas.
Mereka mengatakan,
”Ummu Salamah kembali bertanya, “Ya Rasulullah, ada di antara kami yang
menikah dua atau tiga kali. Jika ia meninggal dunia dan suami-suaminya masuk
surga, siapakah yang menjadi suaminya di surga?” Rasul menjawab, “Wahai Ummu
Salamah, ia diberi kebebasan memilih mana di antara suaminya yang paling baik
akhlaknya.” Lalu Ummu Salamah berkata, “Ya Rabb, jika suamiku yang ini adalah
suami yang paling tampan di dunia, nikahkanlah aku dengannya.” Rasulullah saw
menerangkan, “Wahai Ummu Salamah, ketampanan wajah musnah dengan kebaikan dunia
akhirat.” (HR. Thabrani).
Jadi, wanita dunia, ketika masuk surga, akan mampu mengalahkan kejelitaan
para bidadari. Ini seperti perkataan Aisyah ra., “Perempuan-perempuan Shalihah
di dunia akan berkata kepada bidadari surga, ‘Kami melakukan shalat sedangkan
kalian tidak melakukan shalat. Kami berpuasa sedangkan kalian tidak
melakukannya. Kami bersedekah sedangkan kalian tidak. Kami, perempuan Shalihah
di dunia, mengalahkan bidadari surga.”Inilah yang
menyebabkan—meminjam istilah Salim A. Fillah—bidadari pun merasa cemburu kepada
para wanita Shalihah di dunia. Kuncinya adalah ketaatan. Ilmu yang
mendalam. Amal-amal shalih. Ibadah. Karena, tujuan penciptaan manusia
sesungguhnya semata-mata hanya agar manusia itu beribadah, menyembah Sang
Pencipta dengan kepasrahan total.
Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar