Rindu ini kian menjadi tumpukan debu yang begitu usang. Hilir
mudik bayangan tak bernama melukis imajiku. Aku selalu tak mampu membentuk
bayangnya.
Hhhhhhhh….ku hela nafas yang terasa kian menyesakkan qolbu. Hujan
yang terderai saja seperti mengerti rasa yang kian mengguncang jiwa ini. Aku
resah tak mampu jua menggambarkannya dalam anganku. Namun entah mengapa rindu
ini seakan siap mencabik jiwaku, seakan siap mencacah ilusiku, seakan siap
merrobek batinku.
Rasanya aku perlu istirahat sejenak untuk berdialog dengan hatiku
atau sekedar untuk mengumpulkan asaku yang berserakan atau sekedar untuk menghimpun
ghirohku yang kian hari kian berhamburan.
“Assalamu’alaikum hujan”
sapaku pada tetesan langit, sang penyejuk yang penuh‘arif. Sekedar ingin
berbagi padanya, karena aku tak siap dikhianati lagi jika berbagi pada manusia.
Senja semakin menua, horizon menyelimuti malam yang penuh
misteri, disana menyatu dengan nama mu yang belum aku kenal, dan aku harus bersabar
menanti saat-saat terindah kau menjemputku tuk arungi samudera mahligai nan
suci.

Dia pergi untuk diganti..
BalasHapusDia pergi ada yang lebih baik lagi..
Dia pergi untuk menguatkan hati..
Dia pergi melatih bangkit lagi..
Dia pergi hanya untuk menguji diri..
Dia pergi mengangkat derajat kita dihadapan ILLAHI RABBI..
Dia pergi bukan Akhir segalanya..
Kita hanya mampu merancang tapi ALLAH yang menentukan..
Percaya dan yakini..
Rencana-NYA jauh lebih baik..
Karena DIA tau yang terbaik untukmu